“Ngarit Yuuuuuk…..!!”

Setiap peternak pasti sudah pernah melakukan salah satu aktivitas yang di sebut “ngarit” (mengambil rumput untuk pakan ternak). Istilah ngarit  dipakai hampir diseluruh tempat di Pulau Jawa.  Disebut “ngarit karena alat yang sering di gunakan untuk mengambil rumput adalah arit yaitu pisau melengkung yang ujungnya lancip yang dikenal juga dengansebutan sabit.

Arit untuk ngarit mempunyai bentuk dan ukuran yang  beragam. Selain itu, cara dan alat yang digunakan untuk membawa rumput hasil ngarit  pun berbeda-beda di setiap daerah.  Rumput ada yang di ikat trus di gendong, ada yang di taruh diatas kepala ada juga yang menggunakan berbagai alat bantu lainnya.

Peralatan yang sering di pakai untuk membawa rumput antara lain : keranjang, karung bekas pupuk atau makanan ternak, gerobak  dan berbagai peralatan lainnya.   Salah satu kendaraan pengangkut unik yang pernah saya temui adalah “Roda”.  Gerobak  Roda adalah alat seperti gerobak dorong beroda satu yang sering digunakan untuk mengangkut rumput oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Tangkuban Perahu.  Walaupun ukurannya kecil gerobak ini mampu digunakan mengangkut rumput puluhan kilogram rumput segar.

Ngarit kelihatannya hanyalah pekerjaan sepele namun di balik itu kegiatan ngarit membutuhkan keuletan, kekuatan dan kesabaran yang luarbiasa. Apalagi ketika musim kemarau tiba, para peternak bisa menempuh jarah puluhan kilometer setiap hari untuk mencari rumput bagi ternak mereka. Keterbatasan kepemilikan lahan untuk hijauan makanan ternak dan alih fugsi lahan pertanian menjadi perumahan semakin menyulitkan para peternak untuk ngarit.

Ngarit adalah bukti betapa ketergantungan peternak negeri kita pada alam,   Ngarit adalah perjuangan hidup bagi para peternak …

“Ga’ ngarit ga ada duit….”

WASPADAI ANTHRAX

Baru saja masyarakat Jawa Tengah dihebohkan kembali dengan adanya 9 orang yang diduga menderita penyakit Antraks sehabis mengkonsumsi daging sapi. Terlepas dari benar/tidaknya dugaan tersebut, tidak ada salahnya kita mengenal lagi lebih lanjut mengenai penyakit Antraks.

ANTRAKS (ANTHRAX)

Antraks atau Anthrax adalah penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia (Zoonosis) yang disebabkan bakteria Bacillus anthracis. Sebutan penyakit ini bermacam-macam: Radang Kura, Radang Limpa, Malignant Pustula, Malignant Edema, Woolsoster’s Disease, Ragpickers Disease, Splenic Fever.

Anthraks merupakan salah satu zoonosis yang penting dan sering menyebabkan kematian pada manusia. Antraks sudah dikenal sejak zaman Mesir kuno, wabah pertama di indonesia tahun 1832 di Kab. Kolaka – Sultra. Antraks dapat ditemukan di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang atau negara-negara tanpa program kesehatan umum untuk penyakit-penyakit hewan.

B. anthracis

Bakteri ini berbentuk batang dengan ukuran panjang 3-8 чm dan berkapsul. Toksin dari B. anthracis terdiri dari tiga jenis, yaitu protective antigen (PA) yang berasal dari kapsul poly D- glutamic acid, edema factor (EF), dan lethal factor (LF).

Toksin PA dan LF akan mengakibatkan aktivitas yang letal, EF dan PA akan mengakibatkan penyakit edema, toksin EF dan LF akan saling merepresi (inaktif), sedangkan jika ada ketiga toksin tersebut (PA, LF, dan EF), maka akan mengakibatkan edema, nekrosis dan pada akhirnya mengakibatkan kematian.

Di alam bebas bakteri ini membentuk spora. Spora  B. anthracis tahan puluhan tahun dalam tanah dan bisa menjadi sumber penularan pada hewan dan manusia.

Tetapi spora B. anthracis mati bila :

  • Dioven pada suhu 140 c selama 3 – 4 jam
  • Dididihkan pada suhu 100 c selama 10 menit
  • Dengan  Otoklaf suhu 120 c tekanan 2 atm selama 30 menit.

ANTRAKS PADA HEWAN

Antraks paling sering menyerang hewan herbivora seperti sapi, domba, kambing, unta dsb namun juga dapat menjangkiti manusia karena terekspos hewan-hewan yang telah dijangkiti, jaringan hewan yang tertular, atau spora antraks dalam kadar tinggi.

Hewan ternak terinfeksi antraks biasanya karena memakan rumput yang mengandung spora B. anthracis. Bila spora anthrax masuk ke dalam tubuh dan kemudian sudah tersebar di dalam peredaran darah, akan terakumulasi dalam system limpa, maka infeksi akan mulai terjadi. Racun dari toksin yang dihasilkan oleh sel vegetatif tersebut akan mengakibatkan pendarahan internal (internal bleeding) sehingga mengakibatkan kerusakan pada beberapa jaringan bahkan organ utama.

Gejala  Antraks pada  Hewan Ternak
Gejala klinis ante-mortem pada bentuk perakut dan akut mungkin tidak terlihat. Penyakit bentuk subakut bisa diikuti oleh demam progresif, nafsu makan hilang, depresi, lemah, dan kematian. Pada penyakit bentuk kronis bisa terlihat pembengkakan lokal, demam, pembengkakan limpoglandula.

Post-mortem. Lesi-lesi umum terlihat pada binatang septicemia umum yang sering diikuti dengan pembesaran limpa. Gejala umum yang timbul ialah darah segar keluar dari mulut, telinga dan dubur atau alat kelamin.

ANTRAKS PADA MANUSIA

Penularan pada manusia bisa lewat kontak langsung spora yang ada di tanah, tanaman, maupun bahan dari hewan sakit (kulit, daging, tulang atau darah); mengonsumsi produk hewan yang kena antraks: atau melalui udara yang mengandung spora, misalnya, pada pekerja di pabrik wool atau kulit binatang. Selengkapnya

Kasus Haematoma pada Sapi Perah

Temuan kasus

Seekor sapi perah FH laktasi ke 3 dilaporkan partus 6 hari yang lalu. Kelahiran berjalan lancar, plasenta keluar normal.  Mulai hari ke 3 post partus terlihat adanya benjolan pada daerah perut bawah sebelah kanan, makin hari semakin bertambah besar.

Ketika dilakukan pemeriksaan, Sapi terlihat lesu, tetapi nafsu makan dan minum masih bagus. Dari hasil Palpasi daerah abdominal yang mengalami pembengkakan terasa berisi cairan dan materi setengah padat, ketika  kulit ditekan lama untuk kembali ke bentuk seperti semula dan sapi mengalami kesakitan. Otot sekitar flank kanan terlihat tegang. Palpasi per vaginal tidak di temukan adanya rupture pada saluran reproduksi. Suhu tubuh 38,9 0C.

Diagnose yang mungkin

  • Peritonitis
  • Hernia
  • Abscess
  • Haematoma

Penanganan

Berdasarkan berbagai pertimbangan, saya memutuskan melakukan laparatomi daerah flank kanan untuk menguatkan diagnose.  Setelah dilakukan laparatomi, saya lakukan palpasi ke dalam rongga abdomen, palpasi dinding abdomen dan organ pencernaan. Hasil palpasi menunjukkan tidak adanya perobekan dinding abdomen atau terjadinya hernia. Timbunan cairan terasa berada diluar dinding abdomen.

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah selesai menutup luka laparatomi, saya lakukan penyayatan bagian kulit yang mengalami pembengkakan. Setelah ditusuk dengan gunting, langsung  keluar cairan berwarna kemerahan, cairan berbau sedikit anyir. Setelah cairan keluar, dilakukan penusukan daerah subcutan, keluar gumpalan-gumpalan darah yang banyak, diikuti cairan yang terus menetes. Gumpalan dan cairan terus dikeluarkan semaksimal mungkin dengan membuat beberapa sayatan di bagian lain sambil di tusuk menyebar dibawah kulit. Setelah dilakukan pengeluaran secara maksimal saya lakukan penutupan kulit bekas sayatan, kecuali lubang paling bawah saya biarkan tebuka karena cairan masih terus menetes keluar.

Terapi yang dilakukan setelah laparatomi dan pengeluaran cairan adalah pemberian infuse Glukosa, injeksi antibiotic (penstrep*) selama 3 hari dan multivitamin.

Setelah sekitar 5 hari pasca operasi luka bekas sayatan terlihat mengecil, tetapi cairan yang keluar berubah menjadi nanah (pus).  Saya sarankan kepada pemilik untuk mengurut/mengeluarkan nanah setiap hari. Dan saya dilakukan injeksi multivitamin secar berkala.

Tiga minggu pasca operasi bekas luka sudah kering dan nanah tidak keluar lagi. Daerah bekas pembengkakan sudah merapat kembali tetapi teraba keras dan tebal.

Kebutuhan Air Minum Sapi Perah

Air

Air adalah komponen penting dan terbesar dalam tubuh hewan. Air sangat dibutuhkan dalam berbagai fungsi biologis dan metabolisme tubuh seperti pengaturan suhu tubuh, membantu proses pencernaan, pengaturan tekanan osmose darah, transport nutrient, hormone dan zat lain yang di perlukan tubuh, pertumbuhan fetus, produksi susu dsb. Kebutuhan akan air pada hewan ternak bahkan lebih penting dibandingkan dengan kebutuhan makan.

Kebutuhan air  pada masing-masing hewan sangat bervariasi tergantung oleh berbagai factor seperti:

  • Jenis dan ukuran tubuh hewan. Semakin besar tubuh hewan tentu semakin besar pula kebutuhan air.
  • Status fisiologis hewan. Hewan bunting, menyusui dan pada masa pertumbuhan membutukan lebih banyak air. Sapi yang menyusui membutuhkan tambahan 0,86 kg air/kg susu. Sapi bunting dan pedet meningkatkan konsumsi air 30-50%
  • Tingkat aktifitas. Hewan yang sering beraktifitas tentu saja membutuhkan air minum yang lebih banyak
  • Jenis dan kualitas pakan/Dry matter intake (DMI). Hewan yang di beri Pakan kering membutuhkan air yang lebih banyak daripada yang diberikan pakan basah. Terbatasnya air akan menurunkan intake pakan (DMI)
  • Kualitas air. Rasa dan salinitas air mempengaruhi jumlah air yang konsumsi.
  • Jarak dan ukuran Tempat air minum. Sedikitnya tempat minum atau terlalu padatnya populasi memungkinkan terjadinya kesulitan mendapatkan air pada beberapa ternak
  • Temperature air. Hewan pada umumnya menyukai air dengan suhu lebih rendah dari suhu tubuhnya. Air yang terlalu dingin atau terlalu panas tidak disukai hewan ternak.
  • Temperature udara

Kebutuhan air di penuhi melalui 3 sumber yaitu dari:

  • air minum
  • air yang terkandung dalam pakan
  • air dari hasil metabolisme tubuh

Memprediksi Kebutuhan air minum untuk  sapi perah

Sapi perah membutuhkan air dalam jumlah yang cukup banyak karena sebagian besar komponen penyusun susu (87%) adalah air. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk menghitung berapa banyak kebutuhan air minum pada sapi perah. Salah satu rumus yang sering dipakai untuk mengetahui kebutuhan air minum pada sapi perah per hari ialah:

Drinking water intake (kg/d) = 15.99 + (1.58 x DMI, kg/d) + (0.9 x milk, kg/d) + (0.05 x Na intake, g/d) + (1.20 x min temp C) (Murphy et al., 1983)

Sedangkan untuk sapi kering kandang :

Free water intake (kg/d) = -10.34 + (0.2296 x dry matter % of diet) + 0.2212 x DMI (kg/d) + (0.03944 x (CP% of diet)2) (Holter and Urban, 1992)*CP: Crude protein

Tipe sapi

Produksi susu

(kg/hari)

Range konsumsi air

(Lt/hari)

Rata-rata konsumsi air

(Lt/hari)

Pedet (1 – 4 bulan)

-

4,9 – 13,2

9

Dara (5 – 24 bulan)

-

14,4 – 36,3

25

Induk Laktasi

13,6

68 – 83

115

22,7

87 – 102

36,3

114 – 136

45,5

132 – 155

Induk kering

-

34 – 49

41

Kualitas air minum

·Salinitas , Total Dissolved Solids (TDS)

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam yang terlarut dalam air. TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organic maupun anorganic, mis : garam, dll) yang terdapat dalam air. Salinitas sering kali di ukur sebagai TDS atau TSS yang menggunakan satuan ppm (parts per million) setara dengan mg/l atau µg/ml. Salinitas bisa juga diukur dengan electrical conductivity (EC) dengan satuan micro ohms per centimeter (µmhos/cm), dimana 1ppm mendekati 3/5 µmhos/cm.

Salinitas

Keterangan

Kurang dari 1000 ppm

(kurang dari 1670 µmhos/cm)

Bagus untuk air minum

1000 ppm – 2999 ppm

(1670µmhos/cm – 5008 µmhos/cm)

Aman digunakan untuk berbagai jenis hewan ternak.Walaupun kadang menyebabkan sedikit diare pada hewan yang sensitive tetapi tidak menganggu kesehatan

3000 ppm – 4999 ppm

(5010µmhos/cm – 8348 µmhos/cm)

Boleh digunakan sebagai air minum tetapi kadang menyebabkan diare pada hewan ternak dan jelek untuk air minum unggas.

5000 ppm – 6999 ppm

(8350µmhos/cm – 11688 µmhos/cm)

Boleh digunakan sebagai air minum pada hewan ternak, tetapi jangan diberikan untuk hewan bunting dan menyusui.

Dapat menghambat pertumbuhan dan meningkatkan angka kematian pada unggas

7000 ppm – 10.000 ppm

(11690µmhos/cm – 16700 µmhos/cm)

Menyebabkan heat stress, kehilangan
air dlm tubuh, dan berbahaya untuk hewan bunting

Lebih dari 10.000 ppm

( lebih dari 16.700 µmhos/cm)

Tidak direkomendasikan untuk air minum

35.000 ppm

(58450µmhos/cm)

Air asin, efek tergantung zat yang terkandung

Tingkat Kesadahan / Hardness

Merupakan banyaknya kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ dalam air. Kesadahan juga di pengaruhi oleh adanya polyvalent metal seperti Al, Fe, Mn, Sr dan Zn. Air dikatakan sadah jika kandungan ion dari mineral tersebut tinggi. Dan dikatakan lunak (soft) jika kandungan kandngan ion tersebut rendah.

Klasifikasi air berdasarkan kesadahan

Tingkat kesadahan

Ppm (CaCo3)

Lunak (Soft)

0 – 60

Agak sadah (moderat)

60 – 120

Sadah (hard)

120 – 180

Sangat sadah ( very hard)

Lebih dari 180

Tingkat kesadahan tinggi tidak begitu berpengaruh pada sapi hingga 290 ppm. Air sadah sering menyebabkan terjadinya kerak pada wadah atau pipa saluran air.

Selengkapnya

Peternak Sapi Perah Ga Boleh Menyerah

Sang mentari mulai menampakkan wajahnya, kabut pagi mulai menghilang diantara lembah perbukitan Pangalengan…  pagi itu adalah pagi yang mengharukan buat Pak Anda, seorang kakek tua pemilik sapi indukan yang mati setelah melahirkan pedet kembar dua hari yang lalu. Padahal sapi tersebut sapi satu-satunya yang dimiliki setelah habis dijual untuk biaya berobat sakit keras yang dialaminya setahun yang lalu. Satu-satunya sumber penghasilan untuk hidup sehari-hari bersama sang istri tlah hilang, kini beliau hanya bisa bersabar mengurus dan membesarkan pedet yang tersisa sambil menunggu turunnya uang santunan dari koperasi walaupun tidak seberapa besar jumlahnya. Meskipun demikian beliau tidak menyerah, dengan semagat perjuangan Pak Anda berharap dua pedet yang tersisa, bisa hidup sehat sampai dewasa dan laktasi menggatikan induknya meskipun mulai sekarang harus rela membeli susu penggati untuk mengurus pedet-pedet tersebut.

Kisah diatas merupakan salah satu contoh kisah nyata yang dialamai para peternak sapi perah di negeri ini. Memang banyak kisah sedih yang di alami oleh para peternak sapi perah, tapi tak jarang pula kisah sukses yang bermula dari hanya memelihara seekor sapi. Setiap usaha pasti ada tantangan, semakin besar keuntungan yang mungkin diraih sebanding pula dengan resiko yang  harus diterima.

Berbagai permasalahan dan tantangan usaha peternakan sapi perah rakyat sangatlah kompleks baik dari tingkat peternak, Koperasi maupun tingkat diatasnya. Apalagi saat ini para peternak kita di hadapkan dengan era perdagangan bebas. Susu dalam negeri harus mampu bersaing dengan susu impor, sehingga perlu dituntut adanaya kualitas susu yang bagus.

Akankah peternak kita mampu bersaing? Itulah pertanyaan yang wajib dijawab oleh peternak kita kedepan.

Beberapa permasalahan  yang masih  sering di jumpai di tingkat peternak sampai saat ini diantaranya

  • Masih jeleknya manajemen pemeliharaan sapi. Baik cara pemberian pakan, cara pemerahan, pengeringan, perkandangan dll) terbukti masih banyaknya sapi-sapi dengan BCS kurang dari 2, kejadian mastitis klinis, dysplasia abomasum dan kasus gangguan reproduksi.
  • Terbatasnya ketersediaan hijauan makanan ternak terutama pada musim kemarau
  • Masih rendahnya kualitas susu. Total solid rendah dan TPC yang masih tinggi
  • Besarnya resiko yang harus di tanggung peternak. Belum adanya asuransi ternak yang menjamin ketika sapi mengalami kematian atau harus di afkir

Saya kira para peternak kita tidak mungkin sanggup mengatasi berbagai masalah tersebut jika tanpa ada bantuan dan dukungan dari setiap unsur yang terkait dengam usaha peternakan sapi perah di negri kita ini.

Locomotion Scoring, Deteksi Dini Kasus Kepincangan

Kepincangan adalah penyebab culling atau afkir urutan ketiga setelah mastitis dan gangguan reproduksi dalam usaha peternakan sapi perah. Deteksi dini terhadap kasus kepincangan sangat penting dilakukan untuk mengurangi kerugian. Ada beberapa cara deteksi kepincangan yang dipakai terutama pada peternakan skala besar, diantaranya ialah:

Leg score system (penilaian kaki belakang)

Penilaian ditentukan berdasarkan besarnya sudut  yang terbentuk antara garis tulang punggung dengan belahan kuku kaki belakang (interdigital space).

  • Nilai 1: Normal
  • Nilai 2: Sudut yang terbentuk 170-240.
  • Nilai 3: jika lebih dari 240

Locomotion scoring

Locomotion score adalah suatu indeks kualitatif dari kemampuan sapi untuk berjalan secara normal. Locomotion scoring system  dikembangkan  oleh Sprecher  dkk. pada th 1997. Penilaian (penentuan skor) ditentukan dengan melakukan  pengamatan secara visual pada tiap individu sapi.  Skor yang dipakai mempunyai skala antara 1 sampai 5.

Kenapa locomotion scoring  penting

  • Locomotion scoring merupakan cara yang  cepat, mudah dan akurat untuk mendeteksi kepincangan subklinis (subclinical lameness) dalam satu kelompok ternak
  • Berguna untuk Penentuan prevalensi dan tingkat kepincangan pada kelompok ternak
  • Locomotion scoring berhubungan erat dengan DMI (Dry Matter Intake), BCS (Body Condition Score ) dan produksi susu. Semakin tinggi nilai LS (locomotion Score) makin  makin tinggi pula penurunan DMI dan produksi susu, sehingga Hasil penilaian Locomotion score sangat berguna bagi pemilik ternak, Nutritionist, Dokter hewan, Perawat kuku untuk melakukan tindakan selanjutnya

Selengkapnya

Brucellosis

Brucellosis atau penyakit keluron menular (Bang’s disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh suatu bakteri bersifat  Gram negative yaitu bakteri  Brucella. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Bang di Denmark pada tahun 1897. Oleh karena itu penyakit ini juga dikenal sebagai Bang’s disease. Penyakit bakteri ini telah menyebar ke seluruh dunia dan dikenal sebagai salah satu penyakit kelamin menular pada hewan.

Brucellosis merupakan salah satu penyakit  zoonosis yang telah tinggal lama di Indonesia. Penyakit zoonosis yaitu penyakit menular yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.  Brucellosis  pada manusia  sering di sebut dengan Demam Undulan, Demam Malta, Demam Mediteranian, Demam Gibraltar.

Kejadian pada hewan

Penyakit Brucellosis secara primer menyerang pada sapi, kambing, babi dan sekunder pada berbagai jenis hewan lainnya serta manusia. Brucellosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan oleh 3 (tiga) spesies, yaitu :

  • Brucella abortus yang secara primer menyerang sapi, tetapi juga menyerang kambing, kerbau, domba, kuda, unta, rusa serta manusia.
  • Brucella melitensis yang secara primer menyerang kambing dan domba tetapi dapat menyerang sapi dan manusia.
  • Brucella suis secara primer menyerang babi.

Gejala paling menciri pada hewan terinfeksi adalah keguguran janin antara bulan ke-5 sampai akhir kebuntingan. Pada kejadian tertentu, anak sapi dapat lahir sempurna tetapi lemah atau hanya terjadi plasenta tertinggal. Setelah sembuh kebanyakan sapi induk dapat melahirkan anak-anak berikutnya secara normal, tetapi sebagian lagi dapat mengalami dua atau tiga kali abortus. Terkadang terjadi kelahiran anak yang hidup tetapi umumnya lemah, premature dan mati dalam waktu beberapa jam. Pada hewan muda gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak ada. Pada sapi jantan penyakit dapat menyebabkan peradangan testis

Kejadian pada manusia

Brucellosis pada manusia disebabkan oleh Brucella abortus, biovarian 1 – 6 dan 9, B. melitensis biovarian 1 – 3 , B. suis biovarian 1 – 5 dan B.canis.

Penyakit ini dapat dimulai secara tiba-tiba dengan  gejala yang timbul demam dan menggigil, sakit kepala hebat, nyeri, rasa tidak enak badan dan kadang diare. Pada malam hari terjadi demam sampai 40-41o C; suhu tubuh menurun secara bertahap, kembali normal atau mendekati normal pada setiap pagi hari disertai keringat yang banyak. Demam yang hilang timbul ini berlangsung selama 1-5 hari dan diikuti periode selama 2-14 hari bebas gejala. Kemudian demam kembali timbul. Pola tersebut bisa terjadi hanya sekali, tetapi sebagian penderita mengalami brusellosis menahun dan demam berulang serta penyembuhan selama beberapa bulan atau beberapa tahun.

Setelah fase awal, gejala selanjutnya adalah: sembelit yang berat, hilang nafsu makan, nyeri sendi, penurunan berat badan, nyeri perut, sakit kepala, sakit punggung, lemah, mudah tersinggung,sukar tidur, depresi, ketidakstabilan emosional. Bisa terjadi pembesaran kelenjar getah bening, limpa dan hati.

Jika tidak timbul komplikasi, biasanya penderita akan kembali puluh dalam waktu 2-3 minggu.
Komplikasi jarang terjadi dan bisa berupa:

  • Infeksi jantung, otak dan selaput otak
  • Peradangan saraf, buah zakar, kandung kemih, hati dan tulang.

Bruselosis pada manusia ditularkan melalui:

  • kontak langsung dengan kotoran atau sekret lainnya dari hewan yang terinfeksi
  • susu sapi, kambing atau domba yang tidak dipasteurisasi
  • mengkonsumsi hasil olahan susu (misalnya mentega dan keju) yang mengandung bakteri hidup.
  • Beberapa kasus penularan terjadi karena kecelakaan melakukan vaksinasi atau penanganan vaksin

Selengkapnya

Previous Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.