Brucellosis

Juli 11, 2009 at 00:10 (penyakit) (, , )

Brucellosis atau penyakit keluron menular (Bang’s disease) adalah penyakit yang disebabkan oleh suatu bakteri bersifat  Gram negative yaitu bakteri  Brucella. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Bang di Denmark pada tahun 1897. Oleh karena itu penyakit ini juga dikenal sebagai Bang’s disease. Penyakit bakteri ini telah menyebar ke seluruh dunia dan dikenal sebagai salah satu penyakit kelamin menular pada hewan.

Brucellosis merupakan salah satu penyakit  zoonosis yang telah tinggal lama di Indonesia. Penyakit zoonosis yaitu penyakit menular yang ditularkan dari hewan vertebrata ke manusia.  Brucellosis  pada manusia  sering di sebut dengan Demam Undulan, Demam Malta, Demam Mediteranian, Demam Gibraltar.

Kejadian pada hewan

Penyakit Brucellosis secara primer menyerang pada sapi, kambing, babi dan sekunder pada berbagai jenis hewan lainnya serta manusia. Brucellosis yang menimbulkan masalah pada ternak terutama disebabkan oleh 3 (tiga) spesies, yaitu :

  • Brucella abortus yang secara primer menyerang sapi, tetapi juga menyerang kambing, kerbau, domba, kuda, unta, rusa serta manusia.
  • Brucella melitensis yang secara primer menyerang kambing dan domba tetapi dapat menyerang sapi dan manusia.
  • Brucella suis secara primer menyerang babi.

Gejala paling menciri pada hewan terinfeksi adalah keguguran janin antara bulan ke-5 sampai akhir kebuntingan. Pada kejadian tertentu, anak sapi dapat lahir sempurna tetapi lemah atau hanya terjadi plasenta tertinggal. Setelah sembuh kebanyakan sapi induk dapat melahirkan anak-anak berikutnya secara normal, tetapi sebagian lagi dapat mengalami dua atau tiga kali abortus. Terkadang terjadi kelahiran anak yang hidup tetapi umumnya lemah, premature dan mati dalam waktu beberapa jam. Pada hewan muda gejalanya sangat ringan atau bahkan tidak ada. Pada sapi jantan penyakit dapat menyebabkan peradangan testis

Kejadian pada manusia

Brucellosis pada manusia disebabkan oleh Brucella abortus, biovarian 1 – 6 dan 9, B. melitensis biovarian 1 – 3 , B. suis biovarian 1 – 5 dan B.canis.

Penyakit ini dapat dimulai secara tiba-tiba dengan  gejala yang timbul demam dan menggigil, sakit kepala hebat, nyeri, rasa tidak enak badan dan kadang diare. Pada malam hari terjadi demam sampai 40-41o C; suhu tubuh menurun secara bertahap, kembali normal atau mendekati normal pada setiap pagi hari disertai keringat yang banyak. Demam yang hilang timbul ini berlangsung selama 1-5 hari dan diikuti periode selama 2-14 hari bebas gejala. Kemudian demam kembali timbul. Pola tersebut bisa terjadi hanya sekali, tetapi sebagian penderita mengalami brusellosis menahun dan demam berulang serta penyembuhan selama beberapa bulan atau beberapa tahun.

Setelah fase awal, gejala selanjutnya adalah: sembelit yang berat, hilang nafsu makan, nyeri sendi, penurunan berat badan, nyeri perut, sakit kepala, sakit punggung, lemah, mudah tersinggung,sukar tidur, depresi, ketidakstabilan emosional. Bisa terjadi pembesaran kelenjar getah bening, limpa dan hati.

Jika tidak timbul komplikasi, biasanya penderita akan kembali puluh dalam waktu 2-3 minggu.
Komplikasi jarang terjadi dan bisa berupa:

  • Infeksi jantung, otak dan selaput otak
  • Peradangan saraf, buah zakar, kandung kemih, hati dan tulang.

Bruselosis pada manusia ditularkan melalui:

  • kontak langsung dengan kotoran atau sekret lainnya dari hewan yang terinfeksi
  • susu sapi, kambing atau domba yang tidak dipasteurisasi
  • mengkonsumsi hasil olahan susu (misalnya mentega dan keju) yang mengandung bakteri hidup.
  • Beberapa kasus penularan terjadi karena kecelakaan melakukan vaksinasi atau penanganan vaksin

Baca entri selengkapnya »

Permalink 2 Tanggapan

10 Bahasa Cinta

Juni 18, 2009 at 13:35 (cuap2)

Cinta itu universal. Cinta tidak sebatas hubungan lawan jenis semata, melainkan juga cinta pada lingkungan, cinta pada alam, cinta pada teman, cinta pada orangtua, dan lain-lain. Dari sekian banyak jenis cinta yang ada, satu yang jarang diangkat ke permukaan adalah cinta pada pekerjaan. Padahal serba-serbi cinta dengan lawan jenis nyaris setali tiga uang dengan konsep cinta dalam dunia pekerjaan.

Bahasa cinta 1: Tak berjumpa sehari, rindu yang terasa seperti seminggu tak bertemu. Makan tak enak, tidur tak nyenyak.
Bahasa kerja 1: Tidak beraktivitas dalam sehari, rasanya ada sesuatu yang kurang dalam hidup ini. Perasaan gelisah, sebab bagaimanapun kerja memuaskan kebutuhan akan berprestasi di dalam diri. Dengan bekerja, kita merasa berguna. Bagi mereka yang posesif (baca: workaholic) terhadap pekerjaannya, setiap kali meninggalkan kantor akan terus-menerus memikirkan sejauh mana tugas yang didelegasikan pada rekan atau bawahan telah ditangani, apakah meja kerja tetap rapi.

Bahasa cinta 2: Cinta pada pandangan pertama membuat batin tersiksa.
Bahasa kerja 2: Belum banyak yang Anda tahu tentang lingkungan dan beban yang dituntut dari suatu pekerjaan, namun Anda sudah terlanjur tertarik. Anda ingin segera mengajukan surat pengunduran diri dan menemukan segala cara untuk pindah ke sana. Semakin lama menunggu, semakin Anda penasaran.

Bahasa cinta 3: Cinta monyet, terkadang menyakitkan namun indah untuk dikenang.
Bahasa kerja 3: Karena kurang berpengalaman, Anda terburu-buru menjatuhkan pilihan sekedar mengikuti dorongan hati. Yang penting, merasakan kebanggaan mempunyai pekerjaan. Ternyata semua tidak seindah yang dibayangkan, sehingga Anda terpaksa mengucapkan selamat berpisah dalam waktu singkat. Anda sangat kecewa atas keputusan dan kegagalan ini, tetapi di kemudian hari akan banyak belajar dari kekeliruan yang telah Anda buat.

Bahasa cinta 4: Hubungan yang langgeng dan harmonis harus diusahakan oleh kedua belah pihak.
Bahasa kerja 4: Ibarat bibit tanaman, ia akan mati jika tidak diberi pupuk dan disiram. Mempertahankan pekerjaan takkan berhasil bila bertepuk sebelah tangan. Dalam masa percobaan, bukan atasan semata yang berhak menilai kapasitas Anda, tetapi Anda juga perlu berpikir dan mengevaluasi menit demi menit apakah Anda akan mampu beradaptasi dengan senang hati di kantor. Supaya kerasan, Anda harus membina hubungan yang baik dengan klien, rekan kerja, dan atasan tentu saja.

Bahasa cinta 5: Kejenuhan yang melanda bisa diatasi dengan kreativitas.
Bahasa kerja 5: Setiap orang yang hidup dalam keteraturan pasti pernah merasa bosan, termasuk di dunia kerja. Jangan biarkan penyakit jemu itu terus menyerang! Obati sebelum semakin kronis dan menjadi borok. Ikuti kegiatan yang bervariasi untuk mengusir kejenuhan tadi, seperti kursus singkat yang menunjang tugas Anda, membaca buku karangan penulis favorit, bergaul dengan teman-teman seprofesi, atau mutasi ke bagian lain untuk memperkaya pengalaman.

Bahasa cinta 6: Uang tidak dapat membeli segala-galanya, terutama kebahagiaan.
Bahasa kerja 6: Gaji selangit memang menggiurkan, tapi ingat, tidak semua yang berkilau itu pasti emas! Lembaran rupiah (atau dolar) beserta berbagai fasilitas yang mentereng itu diperuntukkan membeli harta Anda paling berharga: waktu luang! Anda harus siap mempertaruhkan saat-saat bebas yang menyenangkan bersama teman dan keluarga, mengorbankan kesehatan Anda untuk bertempur dalam jamkerja yang panjang, mengikuti rapat-rapat yang melelahkan, dan siap dihubungi pihak perusahaan kapan saja mereka membutuhkan.

Bahasa cinta 7: Cinta tak ada artinya lagi bila sudah ternoda pengkhianatan.
Bahasa kerja 7: Pekerjaan mempersyaratkan loyalitas. Bila atasan mencuri ide Anda, rekan bisnis membocorkan rahasia proyek kepada saingan, klien tidak mau membayar sesuai kesepakatan, berarti lampu merah tanda bahaya sedang menyala. Pikiran Anda sudah melayang-layang ke pekerjaan lain yang lebih menantang? Setiap hari Anda mengarang alasan untuk bolos kerja? Tanyakan lebih lanjut apakah Anda masih menyukai tempat Anda berada sekarang.

Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Displasia Abomasum bag. II (Penanganan)

Mei 20, 2009 at 07:09 (penyakit) (, , , , )

Seperti yang saya sampaikan pada postingan sebelumnya, ada berbagai cara penanganan kasus Displasia Abomasum baik dengan operasi maupun non operasi.

Rolling Technique

Kelebihan : Murah, Tanpa operasi

Kelemahan : Tingkat keberhasilan rendah. Kemungkinan untuk kambuh lagi besar

Point penting: Berbahaya  apalagi untuk hewan bunting

Contoh penanganan kasus LDA dengan rolling technique :

Rolling technique
Rolling technique

Toggle Fixation

Kelebihan: Cepat dan Murah, Luka minimal, tanpa pembedahan dinding abdomen

Kelemahan: Berbahaya jika salah tusuk

Point penting : Sangat berbahaya untuk kasus RDA apalagi disertai volvulus

navettes-3-3dtggl

Right flank omentopexy

Kelebihan: Hewan masih dalam keadaan berdiri. Dapat dipakai untuk kasus LDA, RDA maupun volvulus. Manipulasi terhadap abomasum minimal. Mudah untuk mengidentifikasi  jika terjadi volvulus.

Kelemahan: Sulit untuk melakukan reposisi abomasum dan fiksasi terutama pada kasus LDA. Abomasum sulit untuk di lihat. Resiko terjadinya kontaminasi saat melakukan pengeluaran gas. Kemungkinan untuk kambuh kembali jika lokasi fiksasi terlalu caudal atau terlalu dorsal dari pylorus.

Point Penting: Handle omentum dengan hati-hati. Tempat fiksasi sebaiknya 5-7 cm caudal dan dorsal dari pylorus.

right flank
right flank

Baca entri selengkapnya »

Permalink 1 Tanggapan

Penanganan Diare pada Pedet (Calf Scour)

Mei 7, 2009 at 06:38 (pedet, penyakit) (, , , )

Diare merupakan gejala penyakit yang sering dialami oleh pedet dan seringkali berakhir dengan kematian apabila tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Diare pedet secara garis besar dapat dibedakan menjadi 2 macam, yaitu diare non infeksius (akibat kesalahan dalam pemberian pakan,  dsb.) dan diare infeksius (akibat infeksi  mikroorganisme).  Mikroorganisme penyebab diare pada pedet adalah  virus, bakteri dan protozoa. Virus penyebab diare pedet biasanya dai golongan rotavirus, coronavirus dan BVD. Bakteri yang sering menyebabkan diare pada pedet adalah E.coli, Salmonella dan Clostridium, sedangkan dari golongan protozoa adalah Cryptosporidia dan Coccidia.

penyebab dan ciri-ciri diare pada pedet

penyebab dan ciri-ciri diare pada pedet

Adanya  diare menyebabkan pedet mengalami dehidrasi (kehilangan cairan tubuh) dengan cepat. Derajat dehidrasi pedet dapat diperkirakan dengan melihat gejala yang tampak pada pedet. Selain itu derajat dehidrasi dapat diprediksi dengan melakukan uji elastisitas kulit, caranya dengan melakukan penarikan / pencubitan kulit di daerah leher. Pada pedet yang normal kulit akan kembali seperti  ke keadaan semula dalam waktu kurang dari 2 detik.

Derajat dehidrasi dan gejala klinis yg tampak

Derajat dehidrasi dan gejala klinis yg tampak

Oleh karena itu  pertolongan pertama yang harus diberikan pada pedet yang mengalami dehidrasi adalah dengan memberikan cairan elektrolit untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang. Cairan elektrolit dapat diberikan secara oral untuk mengatasi diare yang menyebabkan dehidrasi ringan, sedangkan untuk diare berat pelu dilakukan pemberian cairan pengganti secara intravena oleh dokter hewan atau paravet. Cairan pengganti yang diberikan secara oral sebenarnya sudah banyak disediakan di pasaran dengan berbagai merek, tetapi apabila tidak tersedia dapat juga dibuat sendiri.

Baca entri selengkapnya »

Permalink 3 Tanggapan

Selamat Tinggal Peternak Sapi Perah Indonesia…

Mei 3, 2009 at 00:35 (Peternakan) (, , )

Masihkah anak cucu kita kelak melihat peternakan sapi perah di indonesia??

KOMPAS- Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jawa Barat Dedi Setiadi mengatakan, peternakan rakyat akan semakin terjepit Itu terjadi jika perusahaan pengolahan susu besar, seperti PT Nestle Indonesia, PT Ultra Jaya, PT Frisian Flag, PT Sari Husada, dan PT Indo-lacto-Indomilk, yang tergabung dalam industri pengolahan susu GPS), menurunkan harga pembelian Rp 300 per kilogram (kg) mulai hari ini.(01/05/09)

Dedi mengungkapkan, penelitian yang dilakukan oleh beberapa badan independen seperti Universitas Padjadjaran, Universitas Brawijaya, dan UGM, menyebutkan, rencana penurunan harga susu akan membuat para peternak semakin terjepit. Berdasarkan analisis, harga yang seharusnya diterima oleh peternak adalah Rp 3.736/liter ditambah biaya operasional sebesar Rp 400/liter.

SURYA- PT Nestle Indonesia dan Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Jatim akhirnya menemui kata sepakat dalam negosiasi harga susu. Menurut Ketua GKSI Jatim Ir Sulistyanto, pihak Nestle bersedia menurunkan separoh dari nilai yang sebelumnya ditawarkan, menjadi Rp 150.

Harga ini, sebenarnya masih belum layak bagi produsen susu lokal, mengingat harga pokok bagi produsen susu lokal, berkisar di angka Rp 3600 per liter. Dengan kembali turunnya harga susu sebesar Rp 150, maka produsen susu kini hanya menerima Rp 3.550 dari Nestle untuk tiap liter susu.(02/05/09)

PIKIRAN RAKYAT- Menurut General Manager Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Jabar, Taryat Ali Nursidik, jika situasinya terus begini, dikhawatirkan usaha sapi perah rakyat akan semakin ditinggalkan. Jika tidak ada perbaikan situasi, diharapkan pemerintah dapat mengatasi dengan memberikan subsidi harga kepada para peternak rakyat, terutama bulan Juni dan Juli. Disebutkan, dalam persoalan ini bagi peternak sebenarnya bukan urusan harga susu yang naik atau turun, namun hitungan harga layak yang diberikan IPS. Berdasarkan perhitungan tim ahli dari Universitas Brawijaya Malang, harga pembelian susu segar untuk peternak di Jabar Rp3.908/liter, sedangkan di Jatim Rp3.776/liter.

Dijelaskan Taryat, di lapangan, peternak mengalami persoalan lama, yaitu tingginya harga pakan, konsentrat, biaya tenaga kerja, dll., sehingga harga susu segar lokal seharusnya minimal Rp3.700/liter. Dibandingkan dengan di Australia, harga susu sapi segar setempat Rp4.000/liter, dan dijual ke Indonesia dalam bentuk susu bubuk di bawah Rp3.000/liter yang kemudian diserap oleh IPS. (30/04/09)

SURABAYA- Ketua Bidang Organisasi dan SDM Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) Sulistiyanto di kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Jatim Surabaya, Jumat (24/4) mengatakan, kondisi ini akan membuat peternak sapi perah akan menanggung kerugian yang cukup besar. Diperkirakan, kerugian peternak Jatim mencapai Rp 195 juta per hari atau sekitar Rp 5,85 miliar per bulan. Dengan asumsi, jumlah produksi di Jatim sebesar 650 ton per hari dikali Rp 300. Dengan harga tersebut, pendapatan peternak bisa berkurang 12% dan produktivitas turun sampai 20%.

Dengan berkurangnya pendapatan tersebut, otomatis, kemampuan petani membeli pakan akan menurun. Dikatakan Sulistiyanto, efek jangka panjangnya, kesehatan sapi perah akan menurun. Jika kesehatan sapi turun, reproduksi juga turun sehingga nantinya akan mengganggu keberlangsungan populasi sapi perah peternak di Jatim.

Kalau normalnya sapi bisa beranak 1 tahun sekali, saat ini sapi perah peternak Jatim baru mampu bereproduksi setiap 15 tahun sekali. Selanjutnya, bukan tidak mungkin sapi perah di Jatim baru akan bereproduksi tiap 2 tahun sekali.

Sumber:

Permalink 2 Tanggapan

Next page »